Desa Mandiri, Masyarakat Berdaya: Wisata Desa Taman Ghanjaran Dongkrak Iklim Investasi Hidupkan Gairah Ekonomi

 

Taman Ghanjaran Mojokerto/ dok. Yuana Fatwalloh

Hujan mulai reda, hembusan angin membawa semerbak petrichor. Langit nampak cerah dan memperlihatkan gagahnya Gunung Penanggungan bertopi awan. Siapapun yang melihatnya bakal terisi kembali semangatnya.

Pemandangan ini hanya dapat dilihat jelas dari Taman Ghanjaran. Sebuah wisata desa yang terletak di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Wahana Permainan di Taman Ghanjaran/ dok. Yuana Fatwalloh

Selain menyuguhkan pemandangan alam asri nan menyegarkan, Taman Ghanjaran juga menyediakan berbagai wahana permainan dan sentra kuliner yang cocok untuk keluarga. Maka tak heran, ada ribuan pengunjung datang ke wisata desa ini setiap minggunya.

Sejak dibuka Desember 2019 lalu, Taman Ghanjaran bukan sekadar wisata desa biasa. Melainkan tempat wisata yang terus berkembang dan mendongkrak ekonomi masyarakat desa di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga: Mojokerto Kota Wisata Sejarah

Setelah pembangunan awal dengan dana bantuan pemerintah sebesar Rp 5 miliar, Taman Ghanjaran mulai dikembangkan dengan menggunakan dana mandiri dari masyarakat. Yakni, dana gotong-royong warga melalui sistem investasi.

Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin/ dok. Yuana Fatwalloh

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin mengatakan, dengan melihat potensi Taman Ghanjaran yang cukup besar pihaknya tak tinggal diam. Melalui proses cukup panjang, Zainul menawarkan investasi itu kepada masyarakat dengan cara membeli saham sebesar Rp 1 juta per lembar. Setiap Kepala Keluarga (KK) dapat membeli maskimal 10 lembar saham.

"Takutnya warga yang mampu memborong saham, kasihan yang lain karena kami menangkap masyarakat ini tertarik," kata Zainul saat ditemui di Balai Desa Ketapanrame, Sabtu (25/12/2021).

Baca juga: Mengukir Nama di Semeru

Dana itu terkumpul hingga Februari 2020 dengan 448 Kepala Keluarga (KK) sebagai pemegang saham. 

"Terjual 3.800 lembar atau Rp 3,8 miliar," terang Zainul. 

Kemudian, nilai investasi Rp 3,8 milar itu digunakan untuk menambah beberapa aset wahana baru di Taman Ghanjaran. Hal ini mendorong pendapatan desa hingga mencapai lebih dari Rp 250 juta per tahun.

Zainul mengungkapkan, kemajuan Taman Ghanjaran tidak terlepas dari pengelolaan dan pengawasan yang diserahkan penuh kepada warga desa.

"Masyarakat jadi pengurus, mendaftarkan berbadan hukum berbentuk koperasi," terang Zainul.

Taman Ghanjaran Trawas Mojokerto/ dok. Yuana Fatwalloh

Kesuksesan Taman Ghanjaran juga diamini oleh Lamat warga Desa Ketapanrame. Petani ini nekat meminjam uang kerabatnya sebesar Rp 5 juta untuk berinvestasi di Taman Ghanjaran.

"Waktu itu yang menjadikan motivasi ada wahana kecil-kecil yang sampai sekarang ada seperti mobil dan sebagainya itu laku laris. Kemudian kuda-kudaan di tengah taman laku laris. Akhirnya banyak yang berminat. Jadi sebelum investasi dibuka banyak yang berminat untuk ikut," ungkap Lamat.

"Akhirnya ketika dibuka pendaftarnya banyak sekali. Saya juga sangat yakin waktu itu," imbuhnya.

Baca juga: Nikmatnya Semangkuk Soto Ayam Ponorogo

Lamat sempat khawatir Taman Ghanjaran tutup sementara saat PSBB. Namun, hal itu terbantahkan lantaran investasinya bakal balik modal bulan ini.

"Kalau rasa khawatir tetap ada cuman kami tetap optimis. Enggak mungkin lah pandemi ini terus-menerus, kami yakin itu. Alhamdulillah keyakinan kami terbukti ketika kami buka awal itu kami dapat Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per lembar waktu itu," ungkap Lamat.

"InsyaAllah tahun bulan ini sudah tertutup," tambahnya.

Wahana Permainan Kereta di Taman Ghanjaran/ dok. Yuana Fatwalloh

Keberhasilan Taman Ghanjaran ini membawa Desa Ketapanrame menyebet juara 1 nasional sebagai Desa Sejahtera Astra (DSA) 2020 dari PT Astra Internasional Tbk. Kemandirian Desa Ketapanrame sejalan dengan 4 pilar cita-cita Corporate Social Responsibility (CSR) Astra. Yakni, pilar pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan.

Tahun ini pun Desa Ketapanrame masuk ke dalam nominasi DSA 2021. Desa Ketapanrame bakal bersaing lagi dengan ratusan desa mandiri di Indonesia.

Wahana Bioskop di Taman Ghanjaran/ dok. Yuana Fatwalloh

Kepala Desa Zainul membeberkan, Astra banyak membantu mengembangkan soft skill dan hard skill masyarakat dengan berbagai pelatihan.

"Astra pembinaan pendampingan melalui Ubaya diajak studi banding bagaimana pariwisata, memandu wisata, bagaimana mengemas produk berperilaku wisata," jelas Zainul.

Pembina DSA Desa Ketapanrame dari Universitas Surabaya (Ubaya) Venny menambahkan, pendampingan itu berupa pengelolaan manejemen pariwisata, salah satunya dengan menimbah ilmu langsung dari wisata desa lain di Jawa Timur dan sekitarnya.

"Agendanya kita setiap tahun. Di tahun 2019 itu kita ke wisata desa Tamansari, ke wisata desa Kemiren, Banyuwangi. 2020 enggak bisa karena pandemi. Terus kemudian 2021 ke tiga desa di Yogjakarta. Kentingsari, Kampung Mataram Jogja, Balkondes Borobudur," papar Dosen Manejemen Layanan dan Pariwisata Ubaya itu.

Keberhasilan Taman Ghanjaran juga berimbas pada wisata desa lainnya di Desa Ketapanrame. Venny menyebut, ASTRA bakal mengucurkan dana bantuan sebesar Rp 300 juta untuk wisata desa Sumber Gempong Desa Ketapanrame. Wisata desa Sumber Gempong menyuguhkan perpaduan pemandangan alam dan eksotis budaya.

"Dari Astra bangunin Pojok Doelanan 300 juta dananya," pungkas Venny.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Cara Healing Mama Muda Zaman Now?

Jadi Ibu Rumah Tangga, Cerita Luluk Lawan Stigma Lewat Blogging